Di tangan para desainer simbol kegagahan militer, warna hijau dan motif loreng merasuk ke dunia fashion. Motif gaya militer yang mulanya menggambarkan maskulinitas tersebut dipertemukan dengan sisi yang feminim. Ia menjadi sebuah aksen, bahkan tak jarak menjadi motif utama pada model busana-busana wanita.
Motif loreng dan warna hijau sudah tidak lagi hanya menjadi sebuah seragam bagi para pembawa senjata saja. Keduanya telah dimodifikasi sedemikian rupa, diberi sentuhan keindahan dan seni oleh para desainer. Tren mode pun pernah mencatat motif loreng dan warna hijau menjadi salah satu inspirasi.
Dari kedua hal tersebut, para desainer telah menciptakan kaos oblong, celana, legging, kemeja, syal, topi, kaos kaki hingga tas. Gaya militer kini tidak lagi memandang gender. Motif loreng dan warna hijau juga bisa dijadikan model gaya busana bagi wanita berhijab.
Seperti Indah Nada Puspita seorang penulis fashion dan model. Ia pernah mengunggah fotonya mengenakan kemeja maskulin dengan motif loreng. Ia memadukan busana militer dengan jilbab polos yang dikenakan secara bertumpuk. Sebagai bawahannya Nada mengenakan celana denim berwarna abu-abu, ia pun menambahkan belt sebagai aksesoris tambahan. Alih-alih terlihat maskulin, Nada justru terlihat feminim dan cantik meski kemejanya loreng dan sedikit gombrong.
Bukan hanya dijadikan bentuk busana saja, motif loreng dan warna hijau sudah bisa di terapkan dalan bentuk item fashion lainnya. Sudah banyak yang menjual jilbab, pashmina, ataupun scarf penutup kepala dengan menggunakan motif print army. Ada pula mukena yang dipermanis dengan aksen loreng.