YOYAHIJAB.COM – Cara perempuan Indonesia dalam menggunakan jilbab sangat kreatif, kreasi satu jilbab bisa dibuat hingga sepuluh model hijab yang trendy. Hal ini yang menjadikan Indonesia sebagai Trendsetter Hijab Dunia.
Dewasa ini, para remaja dan kaum dewasa putri sekarang percaya diri memakai hijab. Maklumlah, model hijab sekarang trendi dengan warna-warni dan aksesori menarik. Nyantai, lagi, malah bisa cenderung dipertontonkan seperti memakai pakaian model lainnya.
Ramai-ramai memakai hijab ini menjadi fenomena tersendiri dan menunjukkan adanya kreativitas. Sebetulnya, istilah hijab lebih mengarah kepada pembatasan diri seseorang, tapi sekarang lebih sering diidentikkan dengan gaya busana muslim. Sementara itu, penutup kepalanya disebut jilbab.
Pengamat busana muslim Jetti R Hadi menilai, cara perempuan Indonesia menggunakan jilbab sangat kreatif. Dari satu kerudung bisa dikreasikan menjadi sepuluh model. Menurut Jetti R Hadi yang biasa disapa Tila, ini karena setiap daerah di Indonesia bertradisi luar biasa dan berpengaruh ke cara mengkreasikan penutup kepala. Seperti di Jambi, ada 81 jenis tekuluk (penutup kepala) dan masing-masing memiliki filosofi.
Melihat banyaknya kreasi baru seputar hijab, Tila merasa yakin Indonesia bisa menjadi trendsetter hijab dunia. “Setiap saat selalu muncul model hijab terbaru. Desainer-desainer dan pengusaha perlengkapan muslimah Indonesia sangat kreatif,” ujar Jetti. Untuk busana muslim, Indonesia akan menjadi salah satu pusat mode busana muslim dunia pada 2020.
Meski banyak hijab dengan kreasi-kreasi baru, pemakaiannya tidak keluar dari pakemnya. Ada beberapa aturan menggunakan busana muslim, di antaranya tidak transparan, tidak membentuk tubuh, menutup aurat, dan dikenakan sesuai tempat dan waktu.
Memakai busana muslim, termasuk jilbab, merupakan pilihan pribadi. Para muslimah memakai busana muslim bukan sekadar untuk menutup aurat, melainkan juga belajar memperdalam Islam.
“Hal ini juga yang memengaruhi style dalam memilih busana muslim, berikut jilbabnya,” ujar Jetti. Ia mengakui, sekarang ini sedang booming jilbab panjang. Semua bagian menjulur ke depan seperti mukena. Ini sangat berbeda dengan tren sebelumnya, ketika model jilbab banyak yang ditarik ke belakang.
Kreativitas desainer busana muslim yang banyak menginspirasi muslimah Indonesia dalam berbusana adalah Dian Pelangi, menginspirasi gaya, potongan baju maupun warnanya. Rahasia kreativitas Dian Pelangi terletak kepada keberaniannya dalam berkreasi dan menjadi diri sendiri. Meski menyerap inspirasi dari desainer-desainer senior, perempuan bernama asli Dian Wahyu Utami ini tetap punya gaya sendiri.
Hasil rancangannya kini sudah tersebar di dalam maupun luar negeri. Bagi Dian, hijab bukanlah paksaan. Sejak duduk di sekolah dasar (SD), ia sudah berhijab. “Hijab sudah menjadi bagian tubuh saya, bukan sekadar kebiasaan,” ucapnya.
Bahkan pada Dianpelangi.net, ia membuat tutorial model-model jilbab. Gaya hijab street style menjadi salah satu tren yang berhasil dibuat Dian Pelangi. Selain santai dan trendi, gaya ini masih terlihat islami dan stylish. Hijab street style cocok digunakan untuk mereka yang aktif dan punya rutinitas kegiatan yang padat.
Dalam koleksinya, Dian memadukan warna-warna pelangi dengan nuansa nude colour. Baju terusan atau gamis yang dilengkapi ornamen kerah sebagai pemanis tampil anggun dan cantik di atas panggung Ramadhan Runway yang diselenggarakan di Kota Kasablanka, Jakarta.
Untuk motifnya, Dian menggabungkan motif floral dengan simetris. Sementara itu, motif jilbab dipilih hijab polos dengan model dibiarkan tergerai memanjang ke ciputnya. Untuk penggunaan warna, ia memadupadankannya dengan warna senada.
Kelas Kerudung
Dunia busana muslim sudah memperkenalkan Aju Isni Karim, yang biasa disapa Isni, sejak tahun 2000. Kala itu, Isni adalah fashion stylist freelance untuk sebuah majalah muslim perempuan dan pernah menjadi fashion editor di salah satu majalah perempuan. Ketika itu, ia banyak berhubungan dengan materi pemotretan busana muslim, sekaligus mengonsepkan gaya kerudung.
Kariernya terus bergulir dan sempat membuat beberapa buku fashion muslim dan mengajar kelas kerudung di Rumah Dandan (kursus berdandan yang didirikan oleh teman-temannya). Seiring berjalannya waktu, Isni bertemu Irna Mutiara yang terkenal sebagai salah satu desainer busana muslim di Indonesia, serta Tia Wigati dan Dewi Novianty.
Keempat perempuan itu akhirnya sepakat membuat merek busana muslim Up2date dan jilbab Square. “Kami berempat tertarik mengembangkan brand busana muslim karena pertama sebagai pemakai. Kedua, kami melihat kebutuhan perempuan, seperti kami ini, yang masih perlu diwadahi dan dikembangkan. Kebetulan kami berempat punya latar belakang yang berbeda. Untuk merancang busana ada Irna, Novi merancang kerudung, saya dan Tia lebih ke promo marketing,” tutur Isni.
Brand up2date berkarakter chic, comfort dan covered up. Artinya, tetap update dalam sisi desain sesuai kebutuhan perempuan pada zamannya. Comfort artinya nyaman secara cutting dan material. Sementara itu, covered up berarti tertutup.
Merek Square berciri sebagai produk kerudung yang memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi perempuan saat berkerudung. Sebagai contoh, untuk mereka yang sulit menggunakan jarum, tersedia produk inovasi tanpa jarum. Square juga memiliki ciri handmade.
Untuk Ramadan dan Lebaran tahun ini, Square sebagai merek jilbab mengeluarkan kerudung capouchon yang bisa dikenakan untuk kasual, office, maupun glamor. Warna-warna dusty sudah menjadi ciri khas Square. Capouchon ini dapat dilengkapi aksesori yang dinamakan straw, seperti tabung kecil/cincin yang fungsinya sebagai pengikat.
Tahun sebelumnya, merek jilbab yang satu ini mengeluarkan seri Capouchon Basic. Square menciptakan aneka kerudung inovatif. Dar segi tempat dengan materialnya yang antipanas dan anti kusut, hingga kerudung untuk pesta tanpa jarum. “Kami juga memiliki koleksi Square Hajj (kerudung panjang menutup dada) dan Square Kids. Setiap model baru kami konsepkan memenuhi kebutuhan perempuan pada masanya,” ujar Isni.
Tertarik mengoleksi jilbab ini? Tidak perlu khawatir. Koleksi jilbab dari Square tersedia di seluruh toko Up2date yang ada di 28 titik. Rencana ke depan, Up2date dan Square akan mengembangkan bisnis ke beberapa negara supaya produknya lebih mudah didapatkan dan dikenal secara luas.
“Kami berempat berobsesi membangun dan menggiatkan fashion muslim Indonesia. Salah satunya dengan konsisten mengadakan annual show Up2date yang kami posisikan sebagai informasi tren Up2date,” tuturnya.
Para “Hijabers”
Ada banyak alasan seorang perempuan akhirnya memutuskan berhijab. Namun, tak dapat dimungkiri, banyak kaum hawa merasa tertarik dengan uniknya gaya dan model hijab yang ditawarkan belakangan ini. Salah satunya adalah Syafitri Wulandari (34), istri seorang direktur di sebuah bank swasta.
Awalnya, Fitri yang sehari-hari berperan sebagai ibu rumah tangga itu hanya mengenakan hijab di saat mengantar kedua anaknya sekolah. Pasalnya, anak-anaknya bersekolah di sebuah sekolah Islam bertaraf internasional. Di sana, para orang tua diimbau berpakaian layaknya seorang muslim/muslimah yang baik.
“Jadi, kalau di sekolah saja saya pakai jilbabnya. Kalau hanya di rumah atau sekadar ke mal, saya berpakaian biasa (tanpa jilbab), yang penting sopan,” ucap Fitri. “Tapi, lama-lama saya pikir nggak ada salahnya jika benar-benar berhijab. Apalagi, zaman sekarang model jilbabnya semakin menarik, nggak ngebosenin,” tuturnya.
Tak berbeda jauh dengannya, Anita Rahma (29) baru tahun lalu memulai tampilan ala hijabers. Awalnya, pemilik sebuah kafe dan restoran di kawasan Jakarta Selatan itu mewajibkan karyawannya (termasuk dirinya) mengenakan busana muslim/muslimah selama Ramadan. Alhasil, ia mulai berburu jilbab dan busana muslim.
“Dari situ malah ketagihan,” ucapnya seraya tertawa. “Maksudnya, jadi nyaman saja pakai hijab. Saya juga senang nyobain berbagai model jilbab yang ada saat ini, akhirnya malah keterusan deh. Ramadan selesai, Lebaran sudah lewat, tapi saya terusin berhijabnya. Insya Allah sampai seterusnya,” ujarnya.
Anita mengakui, yang ia lakukan awalnya hanya ikut-ikutan. “Tapi, kalau ikut-ikutan untuk hal yang positif, kenapa nggak?” katanya. Baik Fitri maupun Anita mengaku tidak terlalu memusingkan anggapan orang akan penampilan “baru” mereka. Menurut Fitri, dengan berhijab dirinya justru lebih dihormati orang lain. Anita pun berpendapat, semua orang bebas menilai dirinya sebab yang terpenting bukan hijabnya, tapi bagaimana cara bersikap.
Kedua perempuan itu memiliki gaya favorit masing-masing dalam berjilbab. Anita senang memodifikasi kerudung segi empat sehingga terlihat bertumpuk-tumpuk. Sementara itu, Fitri lebih menyukai gaya turban yang terbilang praktis. “Gaya turban ini, menurut saya, lebih praktis, bahkan ada yang instan, bisa langsung dipakai. Jadi, saya perlu waktu lama untuk menata jilbab,” tutur Fitri.
Harganya cukup bervariasi, mulai yang puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. “Sekarang kan sudah banyak banget pilihan jilbab yang ada di pasaran. Buat saya, harga itu nggak penting, yang penting warna dan motifnya saya suka. Nggak masalah mahal, yang penting sebanding dengan kualitasnya. Kerudung yang murah juga, kalau memang bagus dan nyaman, kenapa nggak?” ujar Anita.
Anita dan Fitri menyatakan, mereka tidak menyiapkan jilbab khusus untuk Idul Fitri mendatang. Jilbab bisa memakai yang sudah dimiliki sebelumnya, yang sesuai warna busana yang disiapkan. “Makanya aku koleksi jilbab dengan berbagai warna dan motif, supaya tinggal mix and match aja. Saat ini, aku punya sekitar 30 jilbab aneka warna dan motif. Jadi, tinggal dikreasikan saja untuk mencoba tampilan baru,” tuturnya.