Tidak pernah berpikir dirinya akan memeluk Islam, apalagi hingga akhirnya mengakui eksistensi Tuhan dan memutuskan mengenakan jilbab. Ya, dia adalah Annette Bellaoui, perempuan berkebangsaan Denmark yang lahir dari keluarga ateis.

Perempuan 58 tahun ini, menggambarkan kuatnya ateisme keluarga besarnya, lebih dari ‘ateis Taliban’. Hal ini diceritakannya, kepada para pembenci Islam atau mereka yang belum mengenal agama ini dengan baik.

Perempuan yang memeluk Islam sejak dua dekade terakhir ini, seperti dilansir Republika.co.id (4/7) Ia menuturkan, “Saya sering membandingkannya dengan sepatu, Anda tahu ketika Anda memiliki sepatu yang kekecilan, Anda tetap dapat memakainya dan berjalan-jalan dengannya, tetapi ternyata ada banyak hal yang terus-menerus mengganggu dengan sepatu itu,”

Bellaoui berusaha mencari perasaan yang baru dan akhirnya dia menemukannya risalah Muhammad SAW ini. Dia mengenal Islam ketika jumlah pengungsi meningkat datang ke Denmark. Kondisi itu membuatnya pernah bekerja dengan Muslim ketika berprofesi sebagai koki. Kendati demikian, dia belum benar-benar ingin berganti agama, sampai dia pindah ke Maroko.

Bellaoui terbiasa bangun pagi, begitu juga selama tinggal di Maroko. Tepat fajar di hari pertama menginjakkan kaki di negara tersebut, dia merasakan kehangatan yang luar biasa. Lebih lanjut katanya, “Saya masih ingat, wanginya seperti roti sabit yang baru dipanggang, dan bumi baru menghangat karena saya melihat secercah sinar matahari terbit,”

Dari masjid sekitar 100 meter dari tempatnya tinggal panggilan shalat Subuh bergema. Hal ini merupakan pertama kalinya dia mendengar azan. “Pada saat itu, saya berbicara pada diri sendiri, suatu hari saya akan menjadi Muslim,” Terangnya.

Butuh waktu tiga tahun sejak saat itu untuk dia benar-benar memeluk Islam. Dia bersumpah memenuhi panggilan Allah hingga akhir hayat. Banyak pengalaman yang dihadapi Bellaoui setelah memeluk Islam. Terutama dengan mereka yang terjangkit islamofobia.

Dia masih mengingat dengan sangat baik ketika bertemu politisi Denmark yang terkenal dengan terorika anti-Muslim. Sang politisi berseloroh ketus kepada Bella oui, “Apa perempuan ini memiliki granat di sakunya? Ada ketakutan dan kemarahan di wajahnya dan tahukah Anda apa yang saya lakukan kepadanya, saya tersenyum manis, dan dia meniupkan kiss bye,” candanya.

Bellaoui menyadari reaksi islamofobia karena tindakannya yang tidak biasa di kalangan masyarakat Denmark 20 tahun lalu. Apalagi, dia seorang Muslimah dan ber hijab serta memakai nama Islam, Fatima Zahra. Reaksi tersebut tidak membuatnya gentar, hingga kini.

Demikian pula kegigihan Bellaoui meng hadapi keluarganya yang ateis. Dia tidak pernah menyerah memegang akidah ba runya. Hidup di lingkungan semacam itu tidaklah mudah. Keputusannya memeuk Islam menuai respons negatif dari keluarga.

Mereka masih belum mengerti alasan Bellaoui menjadi Muslimah. Mereka menga ta kan Bellaoui telah mengkhianati Den mark dengan budayanya yang bebas. Dia dianggap bodoh karena tidak patuh dengan budaya yang telah mengakar. Orang lain juga berpendapat sama seperti politisi Denmark, yang hanya berasumsi bahwa Muslimah berjilbab atau Muslim pasti seorang teroris.

Tidak hanya dari keluarga, politisi dan lingkungan sekitar, bahkan dia juga harus menghadapi keraguan dari sesama Muslim melihat latar belakang etnisnya. Bellaoui dianggap hanya berpura-pura memeluk Islam karena tidak lahir dari keluarga Muslim atau etnis yang mayoritas beragama Islam.

Namun, dia tidak merasa terganggu dengan reaksi lingkungan di sekitarnya karena memilih Islam. Dia hadapi masalah ini tidak dengan membalas secara negatif. Bellaoui dibesarkan dengan pendidikan yang jauh dari basa-basi. Dia berusaha meng ubah pandangan terhadap umat Islam dengan humor dan tersenyum daripa da memusuhi atau ketakutan.

Fokusnya bagaimana agar pandangan mereka berubah sehingga mereka dapat menilai kembali arti menjadi Muslim terutama Muslimah. Ini dengan menjelaskan kesamaan mereka sebagai manusia.

Cara dan media yang Bellaoui gunakan sangat menghibur. Bukan melalui jalur ilmiah dan akademik, melainkan dia memilih membuktikannya melalui karya dan pekerjaannya, lewat jalur musik. Missing Voices, grup yang Bellaoui dirikan bersama sejumlah seniman Muslimah. Hal ini dilakukan untuk menantang persep si di budaya yang sering dianggap oleh Barat meremehkan kekuatan Muslimah. Di samping itu pula, pendekatan sebagai bagian dari Etnis Dane dia tempuh sebagai modal berkampanye kepada non-Muslim.

Setelah bertaubat, dia mengalami penolakan dari keluarganya akibat identitas baru, yaitu Muslimah! Sang ibu paham betul karakter anak tersebut. Jika sudah berkeinginan, dia akan mengabaikan pendapat siapapun.

Tetapi, hingga 20 tahun berlalu, ibunya masih saja belum memahaminya. Ibunya masih selalu bertanya alasan dia menutup rambut dan saudara laki-lakinya selalu menggodanya dengan menggunakan jilbab juga.

Namun, Annette tidak marah menanggapi mereka. Keluarganya hanya menganggap dia agak aneh. “Ketika saya berumur satu setengah tahu, ibu tidak dapat memberi tahu saya apa yang harus dipakai. Apa Anda benar-benar berpikir ada yang bisa memberi tahu saya apa yang harus dipakai sekarang?” tanya dia.

Dia selalu mendapatkan pertanyaan ‘dari mana asalmu’, karena berjilbab. Ketika dia menjawab orang Denmark, mereka kembali bertanya mengapa mengenakan jilbab? Baginya, jilbab adalah sebuah identitas sebagai Muslimah. Dia tidak akan meninggalkannya meski harus menghadapi situasi yang tidak nyaman.

Banyak orang yang mengira bahwa menjadi orang Denmark tidak bisa menjadi Muslim dan ini menjadi rupa konflik tersendiri. Namun, dia berkeyakinan dengan identitas Denmark Bellaoui percaya dia dapat melakukan apa pun yang diinginkan. Menjadi Muslim dengan identitas etnis Denmark lebih memudahkannya berdakwah mengenalkan Islam. Karena, mereka yang ingin mengetahui Islam tidak khawatir atau takut bertanya karena kesamaan etnis mereka.