Dalam mengejar impian, janganlah menjadikan hijab sebagai halangan atau hambatan. Seperti yang dilakukan Nada Mashaal, hijabers asal Mesir yang kini dikenal sebagai penari balet. Tinggal di negara muslim yakni Arab Saudi, tentu tidak mudah untuk menjadi ballerina dan berhijab.

Saat menari balet mengenakan hijab, wanita asal Mesir itu mengaku beberapakali dikritik. Busana balet dianggap kurang sopan untuk wanita berhijab. Hal tersebut diungkapkannya ketika melakukan latihan di Russian Centre, Mesir.

Seperti dilansir detik.com mengutip Egyptian Streets (3/7) Nada menceritakan  “Aku terus-menerus dikritik oleh teman-temanku yang sepertinya tidak melihat apa yang aku lakukan tapi lebih ke busanaku. Aku di sini mencoba menyampaikan pesan bahwa hijab dan balet bisa berjalan beriringan,”

Wanita 20 tahun ini menuturkan, kalau ia sudah tertarik menjadi ballerina sejak kecil. Nada bahkan sudah belajar gerakan-gerakan kelenturan tubuh seperti split sejak usianya lima tahun. Kemudian saat memasuki usia remaja, ia mulai mencari sekolah yang mengajarkan balet.

Nada mengaku kesulitan menjadi kelas tari balet di kawasan tempat tinggalnya di Alexandria, Mesir. Namun ia tidak putus asa, keyakinannya juga semakin kuat setelah menonton film yang mana salah satu pemainnya ballerina terkenal di Mesir, Nelly Karim.

https://www.instagram.com/p/BTCipSIh2Fe/

Meski mempunyai keinginan kuat menjadi ballerina namun sang ibunda kurang setuju. Ibunya masih berpikir ini hanya keinginan sementara dari Nada yang terpengaruh film. Prasangka ibu ternyata salah karena menjadi ballerina merupakan minat yang sangat ingin ditekuni oleh mahasiswi kedokteran hewan di salah satu universitas Mesir itu.

Wanita yang memutuskan berhijab sejak usia 15 tahun itu bercerita karena sang ibunda kurang setuju, ia pun kesulitan mencari sendiri kelas balet di Mesir. Akhirnya ia berhasil bergabung dengan klub olahraga sederhana dengan fasilitas yang minim. Ia sempat berlatih selama dua tahun lalu memutuskan pindah karena klub tersebut menutup kelas balet.

Tidak putus asa, Nada kembali mencari tempat lain untuk melanjutkan passion-nya. Ia kemudian bergabung di tempat pelatihan budaya Russian Centre. Yang paling membuatnya senang, ia bisa bertemu Sarah, asisten pelatih balet yang juga menggunakan jilbab.

Sarah juga lah yang membantu membela Nada ketika ia dikritik oleh teman-teman lainnya. Selama di Russian Centre, Nada berlatih keras hingga ia berpeluang tampil di pertunjukkan budaya. Ketika akan tampil pun, teman-temannya menyarankan Nada melepas jilbab karena takut banyak orang tidak hadir.

Meski demikian, Nada tak menyerah, ia tetap ranpil menggunakan jilbab. Penampilannya cukup menyita perhatian. Di usia 18 tahun, Nada benar-benar menjadi ballerina berhijab dan sering tampil dalam berbagai pertunjukkan balet. Ia bahkan bergabung dengan lembaga budaya yang lebih besar yakni Opera House.

“Di Opera, orang-orang memberi dorongan dan membantuku berdandan lebih baik. Aku sekarang sering tampil di hadapan khalayak. Para ahli balet mengatakan kalau gerakanku secara teknis sudah sempurna. Mereka tidak mengomentari pakaianku atau melihat fakta kalau aku serba tertutup,” ujar Nada.

Walau Nada sudah banyak dikenal namun ia masih sering mendapat kritik netizen ketika menggunggah fotonya ke media sosial. Beberapa pengguna Facebook masih menganggap bahwa tari dan hijab tidak bisa berjalan seirama.

“Sayangnya apa yang orang mungkin tidak mengerti adalah ballet bukanlah sesuatu yang porno atau kurang sopan. Ini adalah seni dan aku tidak tahu apa alasan aku seharusnya tidak menjadi seorang ballerina berhijab. Aku berusaha melakukan hal yang benar. Aku tidak mengatakan bahwa aku sudah sempurna tapi aku selalu berusaha menjadi lebih baik. Aku berharap bisa terus menjadi seorang ballerina dan tetap memakai jilbab,” tambahnya.