Yoyahijab.com – Kisah hijab kali ini datang dari seorang wanita asal Jerman yang telah memutuskan untuk konsisten berjilbab. Dia adalah Kaya Gravitte. Ia memiliki kisah menarik yang bisa menginspirasi lainnya.

Kaya bercerita pertamakali setelah memutuskan untuk menjadi muslim ketika duduk di bangku perguruan tinggi. Setelah menjadi seorang muslim, Kaya memutuskan untuk mencoba memakai jilbab selama satu minggu dan ternyata ia mendapat sikap diskriminasi.

Pertama keluarganya yang diakui Kaya sangat menentang dirinya menggunakan jilbab. Keluarga mahasiswi tersebut tidak tahu kalau dia sebenarnya sudah menjadi muslim. Keluarga Kaya juga tidak mengerti tentang Islam.

“Lepaskan kain itu dari kepala Anda. Anda orang Jerman, berhenti bertingkah seperti muslim,” begitu ucapan keluarga Kaya ketika ia mencoba berhijab.

Tidak hanya keluarga, tantangan selanjutnya adalah teman-temannya sendiri. Banyak yang mengatakan kalau ia tidak perlu memakai jilbab karena mereka sudah tahu penampilan Kaya tanpa jilbab. Teman-teman Kaya merasa ia memakai hijab hanya sebagai lelucon.

“Kenapa kamu memakai jilbab? Kami sudah tahu seperti apa penampilanmu tanpa jilbab. Tidak perlu memakainya,” ujar Kaya meniru perkataan temannya.

Karena tekanan dari berbagai pihak, Kaya awalnya memutuskan untuk tidak lagi memakai jilbab. Ia takut untuk menjadi muslim. Namun anehnya setelah lepas jilbab, Kaya merasa tetap akan memakainya suatu hari nanti, ada keinginan besar dalam lubuk hatinya.

Sampai tiba di dua semester terakhir kuliahnya, ia kembali merasa bimbang untuk mencoba berhijab. Selama menjalani kuliah, teman-temannya tidak tahu kalau ia sudah menjadi muslim, hanya sahabat dekat saja. Hingga ia harus terus-menerus menjelaskan identitasnya sebagai muslim untuk membantah pandangan miring tentang Islam.

“Hei! Aku adalah muslim dan aku tahu apa yang Anda katakan sebuah kebohongan. Muslim bukan teroris dan bukan orang jahat. Islam cinta damai. Lalu orang-orang menolakku untuk mencalonkan diri sebagai ketua kelas begitu mereka tahu aku seorang muslim,” cerita wanita yang mengambil studi International and Political Science itu.

Hal tersebut rupanya tak membuat Kaya mundur justru imannya semakin kuat. Sampai di semester akhir kuliahnya ia berpikir kalau dengan memakai hijab maka Kaya tak perlu lagi menjelaskan imannya. Ia juga ingin menunjukkan kalau Islam itu damai.

“Bagi orang lain sekarang sudah jelas kalau Islam adalah agamaku. Itu bagian dari alasan mengapa aku berhijab sekarang, aku ingin terlihat sebagai muslim. Aku memakainya untuk diriku sendiri. Di akhir semester di 2015, aku sampai di titik di mana aku percaya diri dengan agamaku dan jilbab yang aku kenakan,” tambah wanita 22 tahun ini